Pages

Sabtu, 28 Mei 2011

Kajian Ayat Surah An-Nur ayat 39

BAB  I  PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam. Allah SWT mewahyukan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada kita sebagai umatnya.  Al-Qur’an merupakan pedoman dan petunjuk hidup kita agar selamat di dunia maupun di akhirat. Sebagai seorang muslim, kita wajib untuk mengimaninya. Wujud keimanan kita terhadap Al-Qur’an harus direalisasikan dengan kita membaca,  memahami,  dan  mengamalkannya. 
Surah An-Nur  adalah  ke-24 dari Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah madaniah. Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini Allah s.w.t. menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk. Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta. Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.
Pokok-pokok isi Surah An-Nur
1.      Keimanan: Kesaksian lidah dan anggota-anggota atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat; hanya Allah yang menguasai langit dan bumi; kewajiban rasul, hanyalah menyampaikan agama Allah; iman merupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.
2.      Hukum-hukum: Hukum-hukum sekitar masalah, li'an dan adab-adab pergaulan di luar dan di dalam rumah tangga.
3.      Kisah-kisah: Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul Ifki).
4.      Dan lain-lain: Janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal shaleh

1.2   Tujuan dan Manfaat Penulisan

Makalah kajian ayat ini disusun untuk membantu memahami surat An-Nur ayat 39, sehingga diharapkan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan agar setiap muslim yang membaca makalah kajian ayat ini mendapatkan tambahan ilmu, serta menjadi lebih terarah dan seimbang dalam hidupnya. Selain itu juga diharapkan dapat menerapkan hal positif yang ada dalam makalah ini di lingkungan tempat ia berinteraksi.


BAB  II  PEMBAHASAN

2.1 Ayat yang dikaji (An-Nur ayat 39) dan Terjemahannya
                                          Artinya :
            Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah  yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya

2.2 Tafsir Surah An-Nur 39
     (Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar) lafal Qii'ah adalah bentuk jamak dari lafal Qaa'un, yakni padang sahara yang datar.
Yang dimaksud dengan lafal Saraabun adalah pemandangan yang tampak di kala matahari sedang terik-teriknya yang rupanya mirip seperti air yang mengalir, atau lazim disebut fatamorgana (ia disangka) diduga (oleh orang yang kehausan) yaitu orang yang dahaga (air, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun) apa yang disangkanya itu, demikian pula halnya orang kafir, ia menduga bahwa amal kebaikannya seperti sedekah, yang ia sangka bermanfaat bagi dirinya, tetapi bila ia mati kemudian ia menghadap kepada Rabbnya, maka ia tidak mendapati amal kebaikannya itu. Atau dengan kata lain amalnya itu tidak memberi manfaat kepada dirinya. (Dan ia mendapatkan Allah di sisinya) yakni di sisi amalnya (lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup) Allah memberikan balasan amal perbuatannya itu hanya di dunia (dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya) di dalam memberikan balasan-Nya.
                        Pada ayat ini Allah memberikan misal bagi amal-amal orang-orang kafir yang nampaknya baik dan besar manfaatnya seperti mendirikan panti asuhan bagi anak-anak yatim, poliklinik untuk mengobati orang-orang yang tidak mampu, menolong fakir miskin dengan memberikan pakaian dan beras, mengadakan perkumpulan-perkumpulan sosial atau yayasan, dan lain sebagainya. Amal-amal sosial itu sangat dianjurkan oleh Agama Islam dan dipandang sebagai amal yang besar pahalanya.
     Amal-amal orang-orang kafir itu meskipun besar faedahnya bagi masyarakat dan sangat dianjurkan oleh Allah SWT tetapi amal mereka itu tidak ada nilainya di sisi Allah, karena syarat utama bagi diterimanya suatu amal ialah iman yang murni kepada Nya dan tidak mempersekutukan Nya dengan sesuatu apapun, apalagi menganggap makhluk Nya baik yang bernyawa ataupun benda mati sebagai Tuhan yang diharapkan rahmat dan kasih sayangnya dan yang ditakuti ialah murkanya.
Allah menyerupakan amal-amal orang-orang kafir itu sebagai fatamorgana di padang pasir, kelihatan dari jauh seperti air yang jernih yang dapat melepaskan dahaga dan menyegarkan tubuh yang telah lelah ditimpa terik matahari. Dengan bergegas-gegas orang melihatnya menuju arah fatamorgana itu, tetapi tatkala mereka sampai di sana, hilanglah semua harapan berganti dengan kecewa dan putus asa karena yang dilihatnya seperti air bening itu tak lain hanyalah bayangan belaka. Kalau mereka hanya merasa kecewa dan putus asa saja, karena mereka tidak jadi mendapat minuman yang segar tidaklah akan berat penderitaannya tetapi mereka dihantui pula oleh nasib yang buruk karena di hadapan mereka telah menunggu penderitaan yang tak tertangguhkan yaitu haus dan dahaga ditimpa panasnya matahari sedang yang kelihatan di sekeliling mereka hanya pasir belaka yang tidak bertepi.
     Demikianlah halnya orang-orang kafir di akhirat nanti, mereka mengira bahwa amal mereka di dunia akan dapat menolong dan melepaskan mereka dari kedahsyatan dan kesulitan di padang mahsyar, tetapi kenyataanya semua itu tak ada gunanya sama sekali karena tidak dilandasi oleh iman yang murni keikhlasan dan kejujuran. Bukan saja mereka dikecewakan oleh harapan-harapan palsu tetapi di hadapan mereka telah menunggu perhitungan yang teliti atas perbuatan dan kepercayaan mereka yang sesat, dan telah tersedia pula balasan atas segala dosa dan keingkaran mereka yaitu neraka Jahanam yang amat panas dan menyala-nyala. Allah telah memberitahukan kepada mereka perhitungan amal mereka dengan cukup dan malaikat Zabaniah telah siap sedia menggiring mereka ke neraka.  Senada dengan itu Allah berfirman yang
Artinya:
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan (Q.S. Al Furqan: 23)

2.3 Ayat-ayat dan Hadis Pendukung

             Surat al-furqan ayat 23
Allah Ta’ala menegaskan, ”Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (orang kafir), lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.
Surat Al Kahfi, 18 : 103-104
Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”
            Ayat di atas dengan jelas menjelaskan bahwa amal perbuatan manusia yang baik-baik akan menjadi sia-sia dan tidak berguna di akhirat, jika tidak disertai dengan iman. Amal perbuatan baik yang tidak disertai dengan iman digambarkan oleh Allah seperti debu-debu yang beterbangan yang tidak ada manfaatnya.
Surat Ibrahim ayat 18
            Allah ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang kafir kepada tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.
Surat Al-Kahfi : 30
Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.”
            Ayat di atas menggambarkan bahwa suatu perbuatan baik (amal shaleh) yang disertai dengan iman, maka amal perbuatan tersebut tidak akan sia-sia, melainkan diterima di sisi Allah. Sebaliknya, hal ini memberikan pengertian bahwa suatu amal perbuatan baik, manakala tidak disertai dengan iman, berarti tidak akan membawa kebaikan apa-apa bagi manusia. Dalam ayat lain Allah juga berfirman:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Sedangkan dari hadis Nabi yang mulia:
Tidak diterima iman tanpa amal dan tidak diterima amal  tanpa iman.” (At-Thabrani)
Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam bersabda bahwaAmal tergantung dari akhirnya”. Artinya apabila seseorang melakukan suatu tindak kebaikan, belum tentu akan dibalas oleh Allah, tetapi akan dicatat. Ketika orang kafir itu akhirnya masuk islam, maka islam itu akan menghapus kejelekan-kejelekan mereka. Hal yang sama juga berlaku pada orang beriman, amalan mereka juga akan dicatat. Tergantung bagaimanakah hidup di akhirnya. Mereka orang-orang kafir mendapatkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Amal-amal mereka menjadi amalan yang sia-sia. Allah Maha cepat perhitungannya. Inilah salah satu bentuk keadilan Allah.


2.4 Kajian Keilmuan
            Setelah mengetahui bahwa amalan yang diterima Allah adalah yang berlandaskan keimanan maka kita harus dapat mengimplementasikan ilmu yang kita miliki agar menjadi suatu karya nyata yang dapat bermanfaat dalam bentuk Alat yang dapat membantu pekerjaan manusia misalkan dalam bidang elektro membuat perangkat yang dapat memudahkan serta membantu orang dalam bekerja. Dan tidak kalah pentingnya dalam menciptakan suatu karya tersebut harus dilandasi dengan Keimanan dan keikhlasan sehingga amal yang diperbuat selain bermanfaat di dunia juga dapat diterima Allah Swt sehingga ada manfaatnya di akhirat


BAB III PENUTUP

            3.1Kesimpulan
            Ayat-ayat dan hadits di atas menjelaskan bahwa amal shaleh yang diterima di sisi Allah adalah yang diniatkan karena Allah bukan untuk yang lain, seperti karena riya’ dan sebagainya. karena itu, jika seseorang melakukan amal perbuatan baik secara lahiriyah, tetapi niatnya bukan karena Allah, melainkan karena seseorang atau yang lain, maka amal perbuatannya menjadi sia-sia seperti buih yang terbawa air atau debu yang diterbangkan oleh angin. Untuk itu, guna meningkatkan kualitas amal shaleh kita, maka ada beberapa hal yang harus kita perhatikan: pertama, amal shaleh kita harus senantiasa dilandasi karena keimanan kepada Allah dan kita harus berniat bahwa amal perbuatan kita tersebut dilakukan dalam rangka untuk beribadah kepada Allah. Wallahu a’lam bishawab.

            3.2 Saran
            Agar seorang Muslim tidak terjebak pada tujuan memburu kenikmatan sesaat, sebentar, sebagaimana yang diderita oleh kaum yang tidak beragama, tetapi menggunakan karunia-Nya secara maksimal untuk  mencapai kenikmatan yang bersifat permanen (akhirat), maka berikut adalah beberapa resepnya.
1. Selalu mendekat kepada-Nya
2. Simpati, membela dan mencintai para kekasih-Nya. Merekalah yang keberadaannya ditolong, dilindungi dan dibela oleh-Nya
3. Mengikuti ajaran Rasulullah SAW (ittiba’) sebagai bukti kecintaan kepadanya
4. Berperang di jalan-Nya dengan shaf yang rapi
5. Selalu membaca al-Quran, menjaga lisan, memberi makan orang yang lapar, puasa di bulan Ramadhan.
6. Selalu berbuat baik
7. Mencintai orang lain karena Allah SWT
8. Suka menolong sesama
9. Membela kaum tertindas
10. Ikhlas dalam beramal
11.Suka memberi
12. Menyadari kelemahan diri
13. Bertaubat dengan tulus ikhlas
14. Melaksanakan hak-hak ukhuwwah paling rendah, yakni : salamatush shadri (hatinya selamat dari dengki, sombong, serakah dan dendam) dari sesama Muslim



Daftar Pustaka

 Shalih Hasyim. Amal Mereka Bagai Debu yang Bertebaran. www.sobatmuslim.com/artikel/hidup-mulia-matilah-dengan-mulia
Ldk  jamaah shalahuddin ugm. Tafsir Surat An Nuur 39 - 40 www.js.ugm.ac.id/kajian/buletin-annaba/91-tafsir-surat-an-nuur-39-40.html

mafahim-azhari. tidak-ada-toleransi-dalam-aqidah-dan.html. www.mafahim-azhari.blogspot.com/2006/12/tidak-ada-toleransi-dalam-aqidah-dan.html
Wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar